SS: YunSeo’s rabbit ears

Tittle:  Yun Seo’s rabbit ears

Author: Ruri Matsui

Cast: Yun Seo(Yukako Iisawa), Keito Hondo (fiktif)

Other Cast: member Cheo shi, dll

Japan, 2009

“ Yun Seo, habiskan sarapanmu! Kita bentar lagi berangkat ke Lokasi!!” seru Kimmy, membereskan piring sisa sarapannya. Entah kenapa di musin panas yang indah dan menyenangkan ini, Yun Seo terlihat murung. Ia selalu ketahuan sedang melamun, menatap kosong kea rah langit.

“ Iya..iya..” sahut Yun Seo yang sudah sadar, cepat-cepat menghabiskan sarapannya. Ia langsung bangkit begitu sarapannya habis dan menuju mobil mereka. Seperti biasa, Yun duduk di pojok menghadap jendela mobil dan melamun kembali. Yeon yang tak lama kemudian masuk ke mobil tak heran melihat kebiasaan baru teman sekamarnya ini.

“ Ohayou Yun-chan..” sapa Yeon sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Yun menoleh dan tersenyum. “ Ohayou..” jawabnya lemas lalu mengamati gerak-gerik Yeon.

“ Lama tidak kembali ke sini..” ujar Yeon tiba-tiba mengagetkan Yun.

“ Ya..”  Yun tersenyum terpaksa. Sebenarnya, Yun seo sudah lama ingin sekali kembali ke Jepang walaupun hanya sementara. Ada sebuah tempat yang ingin Yun Seo kunjungi. Yaitu tempat tinggal Yun Seo dulu. Disana ada sebuah kenangan yang sangat berarti bagi Yun Seo.

Saat di perjalanan, Yun melihat bunga hati yang bermekaran di sebuah taman yang sepi. Bunga Hati itu banyak tumbuh di rumahnya yang dulu. Yun sering memetiknya bersama seorang teman. Ya, seorang teman yang mengubah semua hidupnya. Seseorang yang sampai sekarang masih membuatnya masih bimbang akan perasaannya. Seseorang yang masih di pikirkan Yun Seo sampai sekarang..

Dataran Yokohama, Japan 2003

“ Yukako!!!” teriak lantang seorang anak laki-laki di depan rumah Yun Seo. Yun segera membuka pintu rumahnya dan keluar dengan berlari.

“ Okasan!! Aku Berangkat!!” teriak Yun Seo lalu berlari kea rah anak laki-laki itu. Saat itu, umur Yun Seo masih 13 tahun, seumuran dengan anak laki-laki disampingnya.

“ Yukako, pulang sekolah nanti , Ayo kita di tepi sungai untuk memetik bunga Hati lagi!!” ujar teman Yun antusias.

“ Lagi? Bukankah kemarin sudah Keito??” tanya Yun penasaran. Teman dari kecilnya ini hobi sekali memetik bunga hati yang ada di pinggir sungai dekat kebun sekolah. Bunga itu berbentuk hati, kuncup bunganya menghadap ke bawah dan warnanya merah muda, ada juga yang putih. Bunga ini tumbuh saat awal musin semi sampai pertengahan musin panas. Karena itu, setiap memasuki musin semi, Keito Hondo sangat bersemangat.

“ Ayolah!! Ini kan pertengahan musin panas. Kalau tidak hari ini kita tidak bisa melihat bunga itu lagi!! Kumohon Yuka-chan!!” pinta Keito dengan memelas. Kalau sudah begini, Yun tidak bisa apa-apa selain menyanggupi permintaan sahabatnya itu.

“ Baiklah..ini yang terakhir..” ujar Yun pasrah.

“ HOREEE!! Terima kasih Yuka-chan!!” serunya girang lalu merangkul Yun menuju sekolah mereka.

**

“ Yuka-chan, tahu tidak, bunga ini memiliki cerita unik lho..” ujar Keito penuh penasaran sambil memandangi bunga hati di hadapannya.

“ Cerita apa? Kau ini, cepat turun!!” ujar Yun setengah berteriak pada Keito yang dengan santainya duduk di atas pohon.

“ Dengarkan dulu ceritaku..” ujarnya lagi menatap Yun penuh harap.

“ Baiklah! Cerita tentang apa??” ujar Yun akhirnya mengalah.

“ Begini..”  Keito yang antusias langsung mengubah posisi duduknya. Matanya tidak memandang Yun Seo di bawahnya, tapi menatap langit sore. Seakan ia akan bercerita kepada langit.

“ Dulu, ada seorang pangeran yang jatuh cinta pada sorang putri. Pangeran itu memberikan beberapa macam hadiah. Diantaranya, dua kelinci dan sepasang anting yang indah. Namun putri tersebut  menolak semua hadiah itu. Pangeran sedih sekali hingga menusukkan pisau belati ke dadanya.. Dan mati.  begitu ceritanya..” Keito menyelesaikan ceritanya. Yun mengangkat alis heran.

“ Lalu, apa hubungannya dengan bunga ini?” tanya Yun masih denganekspresi yang sama. Melihat ekspresi bingung Yun Seo, Keito langsung turun dengan membawa sebuah bunga hati ke depan Yun Seo.

“ Ini hubungannya..” sahutnya penuh misteri. Yun seo menunggu dengan tidak sabar.

“ jika kelopak ini di lipak ke atas dan posisinya di balik, maka akah terlihat seperti telinga kelinci..” Keito mempraktekannya dan memang benar-benar seperti telinga kelinci. Yun Seo bertepuk tangan kagum.

“ Trus, kalau kelopak yang putih ini dipisahkan dari kelopak merah, bisa seperti anting-anting. Benar kan?” ujarnya lagi sambil terus mempraktekkan. Yun Seo tak henti-hentinya merasa kagum dan terus bertepuk tangan.

“ Dan yang terakhir, kalau benang sarinya di tarik, terlihat seperti sebilah pisau yang menusuk hati.. lihat!”

“ Waaa.. kau tahu dari mana Keito?” tanya Yun Seo yang sekarang antusias. Keito hanya menunjuk kepalanya sambil berwink. Segera saja, Yun seo langsung cemberut karena sadar Keito sedang mengodanya.

“ Dasar!! Ayo pulang! Ini sudah sore..” ajak Yun Seo lalu mengambil tasnya yang ada di bawah pohon bunga hati. Keito sama sekali tidak bergerak. Ia sibuk memandangi bunga hati di tangannya.

“Ayo Keito..” desak Yun Seo lagi.

“ Yuka-chan.. panggilnya lembut. Yun menoleh penasaran. Merasa aneh dengan ekspresi wajah Keito.

“ Kalau aku memberikanmu dua ekor kelinci, apakah kamu mau menerimanya?” tanya Keito dengan wajah serius. Yun tidak mengerti apa yang ia maksud.

“ Kalau aku memberikanmu sepasang anting, apakan mau menerimanya?” ujar Keito lagi. Yun mulai mengerti apa yang dia maksud tapi tetap diam.

“ Kalau aku menusukan pisau ke dadaku, apa akan Yuka-chan lakukan?” tanya Keito lagi lalu memandang Yun Seo lurus.

“ Apa maksudmu.. tentu saja aku akan membawamu ke rumah sakit..” jawab Yun seo ragu-ragu. Terdengar napas kecewa dari Keito. Ia segera mengambil tasnya lalu berjalan mendekati Yun.

“ Ayo lomba! Siapa yang paling cepat sampai kerumah harus menuruti kata si pemenang satu hari!!” ujar Keito riang lalu berlari.

“ Tunggu!! Dasar Curang!!” Yun ikut mengejar.

**

“ Horee!! Aku menang!! Yuka-chan, besok kau jadi babuku selama sehari!! HAHAHAHAHA” ujar Keito riang dengan nada kemenangan. Yun berdiri lelah di depannya sambil mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.

“ Kau curang!!” ujar Yun membela diri.

“ Di dunia ini yang cerdiklah yang menang..” ujar Keito memandang kasihan Yun Seo. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ Itu CURANG bukan CERDIK!!” protes Yun Seo lebih keras.

“ Hanya beda tipis..” jawab Keito masih santai. “ Pokoknya! Besok Yuka-chan resmi jadi babuku sehari penuh!! Siap-siap saja Nona Yukako Iisawa.. sampai jumpa!!” pamit Keito lalu berjalan lambat menuju rumahnya yang terletak persis disamping rumah Yun Seo.

**

Yun Seo tersenyum geli di dalam mobil. Anak Cheo shi yang sedari tadi melihat Yun Seo melamun langsung kaget. Yeon bahkan sempat menahan napasnya. Begitujuga yang lain.

“ Onnie, tadi Yun onnie senyum ya?? Apa Hye salah lihat?” bisik Hye pada Kimmy dengan ragu-ragu.

“ aku juga tidak tahu.. aneh sekali..” jawab Kimmy.

“ Kurasa, pengelihatanku berkurang..” ujar Joo ikut berbisik.

“ Yeon-yah, Yun tadi benar-benar tersenyum ya??” tanya Eun Cha di samping Yeon tanpa berbisik. Membuat anak lainnya langsung menyuruh Eun Cha untuk diam. Yeon yang penasaran langsung mengguncang-guncang lengan Yun Seo.

“ Yun, ada apa? Kok senyum-senyum?” tanya Yeon penuh selidik. Yang lain diam menunggu jawaban dari Yun Seo. Menduga-duga akan menjawab apa anak ini.

“ bukan apa-apa..” jawab Yun singkat lalu melanjutkan lamunannya.

“Onnie gak seru..” bisik Hye langsung di jitak Joo dengan keras.

**

“ Yuka-chan, Ayo ke pinggir sungai!!” pinta Keito esoknya.

“ Baiklah..” jawab Yun lemas karena hari ini, dia pasti akan di suruh ini dan itu oleh Keito karena hari ini dia menjadi babu resminya. Melihat muka Yun yang sudah lemas duluan, Keito angkat bicara.

“ Tenang saja.. aku tidak akan menyuruhmu ini dan itu. Hari ini, tolong hibur aku..” ujarnya membuat Yun berhenti melangkah. “ Ayo jalan!” suruh Keito menatap Yun yang sudah jauh di belakangnya.

“ Apa? Bagaimana caranya?” tanya Yun bingung. Keito tersenyum misterius. Huh, senyum yang selalu berhasil membuat Yun Seo penasaran seumur hidupnya.

“ Jadilah sahabatku..” jawabnya. Yun langsung tertawa geli.

“ Hahaha.. ada apa denganmu Keito Hondo? Aku sudah jadi sahabatmu sejak dulu..” seru Yun sambil menepuk punggung Keito.

“ Aku belum selesai bicara..”

“ Hah? Lalu apa lanjutannya?”

Keito terlihat berpikir. Lalu ia putuskan untuk tidak meneruskan perkataannya.

“ Tidak jadi, aku sudah lupa..” jawabnya enteng. “ Hey!!!” teriak Yun protes. Sudah berkali-kali, Yun Seo di buat kesal dan penasaran oleh anak ini.

**

Mereka sampai di  pinggir sungai. Hari itu, bunga hati yang mekar tinggal sedikit. Yah, pertengahan musin panas memang beberapa hari lagi berakhir. Setelah itu, bunga ini akan mati, sama seperti bunga sakura.

“ Yuka-chan, kita harus kesini lagi besok!”

“ Kita memang sudah setiap hari ke sini..” jawab Yun Seo dengan nada jutek.

“ Tidak juga, saat musim gugur, kita tidak kesini..” jawab Keito tidak mau mengalah. Dan akhirnya, selalu Yun Seo yang mengalah. Keito naik ke atas pohon dan duduk santai disana. Itulah kebiasaannya.

“ Yuka-chan, ayo naik juga..” ajaknya. Yun Seo langsung ikut naik dan duduk berhadapan dengan Keito di dahan yang lain.

“ Setidaknya, aku bisa melihat bunga ini bersamamu Yuka-chan..” ujarnya pelan lalu memetik sebuah bunga den melemparnya ke Yun Seo.

“ Jangan konyol. Kita memang setiap hari melihat bunga ini tumbuh lalu gugur..” tangkis Yun Seo dengan cepat menagkap bunga lemparan Keito.

“ Aku belum selesai bicara..”

“ Ya sudah, lanjutkan..”

“ Tidak jadi!!”

“ Huh! Menyebalkan!!”

**

“ Huh, dasar..” ujar Yun Seo pelan sambil tersenyum geli. Sukses membuat pada anak Cheo Shi menahan napas serentak. Mereka memandangi yun Seo dengan penuh curiga, tapi yang di pandang sendiri tidak sadar.

“ sekarang apa lagi??” gumam Yeon lalu menatap Yun Seo penuh selidik.

**

“ Hey, Yuka-chan” panggil Keito. Yun Seo menoleh penuh tanda tanya. Sebenarnya ia masih kesal karena sedari tadi, Keito sama selai tidak menyinggung atau melanjutkan perkataannya tadi. Yun Seo di selimuti rasa penasaran yang kuat.

“ Apa pendapatmu tentang diriku?” tanya Keito serius.

“ Hm.. orang yang mengasyikkan, selalu membuatku penasaran, tidak mau kalah, selalu curang, dan .. baik hati..” jawab Yun Seo agak ragu saat mengucapkan kata ‘baik hati’.

“ Hanya itu?” tanya Keito lagi. “ Entahlah..” jawab Yun Seo santai.

“ Yuka-chan, kalau aku pergi bagaimana?” tanya Keito lagi. Pertanyaan yang sampai sekarang masih ada di hati Yun Seo. Pertanyaan yang tak bisa Yun Seo jawab sampai saat ini.

“ Tidak apa kalau tidak mau menjawab..” sahut Keito cepat-cepat.

“ Kenapa berkata seperti itu?” tanya Yun Seo dengan was-was. Entah kenapa saat Keito mengatakan petanyaan tadi, Yun merasa akan kehilangan Keito. Entah sementara atau selamanya. Yang jelas, perasaan ini sangat menganggu Yun Seo.

Keito menatap Yun Seo dengan penuh arti. Yun Seo tidak mengartikan arti pandangan Keito padanya. Ia terlihat sedih dan tidak rela, tapi.. ada perasaan lain yang tidak dapat di gambarkan Yun Seo.

Keito melompat turun dari dahang pohon bunga hati. Ia mengisyaratkan Yun Seo untuk turun juga. Setelah Yun turun, Keito berdiri di depan Yun Seo dan mulai menatapnya lagi.

“ Kalau ku beri telinga kelinci, apa kau mau menerimanya?” tanya Keito penuh misteri.

“ Keito, jangan mulai lagi bertanya pertanyaan aneh dan bodoh seperti itu!” protes Yun Seo. Sedetik kemudian, Keito melemparkan bunga hari yang berbentuk telinga kelinci ke wajah Yun Seo.

“ Apaan nih? Kapan membuatnya?” tanya Yun heran. “ Tutup matamu!” suruh Keito dan anehnya, tanpa protes Yun Seo menuruti perkataan Keito. Dengan hati-hati, Keito memasangkan sesuatu di kepala Yun Seo. Yun Seo tentunya merasa ada yang menempel di kepalanya walaupun tak tahu itu apa.

“ buka dan pegang kepalamu..” suruh Keito lagi dan Yun langsung melakukannya. Ia terkejut bukan main. Dan melepasnya.  Di tangannya ada  sebuah bando bertelinga kelinci berwarna biru dengan hiasan bulu-bulu yang berwarna biru juga.

“ Terima kasih Kaito!! Aku sangat suka ini! Itu jawaban dari pertanyaanmu..” ujar Yun tersenyum senang lalu memakai telinga kelincinya lagi. “ Terima kasih..” ujar Keito malu-malu. Lalu mereka berdua duduk di pinggir sungai.

“ Yuka-chan, cita-citamu ingin jadi penyanyi kan?” tanya Keito lembut.

“ Ya! Aku ingin jadi penyanyi yang sangat terkenal. Ibuku sudah membeli formulir audisi di La Entertainment. Ku harap aku bisa lolos!!” jawab Yun Seo antusias.

“ Pasti! Kau pasti bisa lolos Yuka-chan. Kapan audisinya?”

“ Lusa..”

Keito terdiam beberapa detik lalu mulai berbicara lagi.

“ Yuka-chan, percayalah kau pasti berhasil. Saat kau jadi penyanyi sungguhan dan menjadi tenar, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kamu dapat saat itu. Teruslah berusaha.. aku akan menjadi fans Yuka-chan yang pertama!” ujar Keito bijak. Yun Seo serasa mendapat semangat baru dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia bertekad untuk terus dan terus berjuang sampai menjadi yang terbaik.

“ Berjuang untuk lusa!!” seru Keito bersemangat lalu mengajak Yun Seo untuk berteriak juga.

“ YUKA-CHAN!! KAU PASTI BISAA!!”

“ YAAAA!!! AKU PASTI BISAA!!!”

“ Nah Yuka-chan, ayo pulang!” ajak Keito dengan senyum ramah. Tapi bukan keramahan yang dirasakan Yun sat melihat senyuman Keito itu. Ia malah sedih dan merasa Keito akan hilang dari hidupnya. Tapi, Yun tidak memikirkannya, itu hanya perasaannya yang bodoh. Dan berharap tidak terjadi apa-apa.

**

Yun Seo berlari secepat yang ia bisa. Ia ingin segera bertemu Keito dan mengabarkan bahwa ia lolos audisi dan akan menjalani trainee di Tokyo. Betapa senangnya Yun saat ia lolos. Dan orang pertama (selain orang tua) yang ingin ia beritahu adalah Keito.

Biasanya pada jam-jam segini, Keito berada di pohon bunga hati untuk menunggu gugurnya bunga itu. Tapi, saat Yun Seo kesana, Keito tidak ada. Kemana perginya sahabatnya itu?

Ia berlari lagi ke rumah Keito. Begitu sampai, rumah Keito tampak kosong dan sepi. Kemana keluarganya? Yun akhirnya masuk kembali ke rumahnya dan bertanya pada ibunya.

“ Okasan, kemana keluarga Hondo? Kenapa rumahnya sepi?” tanya Yun dengan panik. Ia takut hal yang pernah ia bayangkan akan terjadi. Keito tidak boleh pergi! TIDAK BOLEH!!

“ Mereka pindah entah kemana pagi saat kamu pergi ke Tokyo untuk audisi.” Jelas Okasan bingung melihat ekspresi Yun Seo yang panik.

“ Apa?”

“ Sudahlah Yukako. Masuk kamarmu dan kepak barang-barangmu. Nanti malam, kamu akan pergi ke Tokyo untuk pelatihan di sana. Itukan yang kamu mau? Jadi bergegaslah..” suruh Ibu Yun Seo.

Yun melakukan apa yang disuruh ibunya dengan tatapan kosong. Masih tidak percaya bahwa Keito-sahabatnya- sudah pergi entah kemana. Bahkan Yun tidak sempat mengucapkan selamat tinggal atau sampai jumpa.

Malamnya, ia berangkat dengan di temani ibunya ke Tokyo. Selama berbulan-bulan Yun Seo menjalani pelatihan di Tokyo untuk menjadi seorang bintang idola. Ia bertemu dengan kawan-kawan yang baru yang ramah dengannya. Tapi tak pernah melihat Keito lagi.

Telinga kelinci dari Keito masih Yun Seo simpan dan bawa kemana pun ia pergi. Ia masih berharap suatu saat nanti ia akan kembali bertemu dengan Keito. Entah di mana dan kapan. Yun Seo sangat mengharapkan itu.

**

Air mata menetes pelan dari pipi Yun Seo. Yeon yang melihatnya langsung terkejut dan mengingatkan Yun dengan pelan tanpa memberi tahu yang lain. Yun Seo segera menghapus air matanya dan tersenyum ramah pada Yeon.

“ Yuka-chan, tidak apa-apa kan?” bisik Yeon lembut. Yun Seo menggeleng sambil tersenyum.

“ Onnie, tadi aku lihat bunga yang mirip hati lho..” ujar Hye Seo antusias pada para Onnienya.

“ Bunga itu memiliki kisah sendiri lho..” sahut Yun Seo sambil tersenyum misterius. Sama seperti yang dilakukan Keito padanya dahulu.

“ Benarkah? Bagaimana ceritanya?” tanya Hye antusias. Yang lain pun ikut mendengarkan saat Yun Seo mulai bercerita.

Yuka-chan, kalau aku pergi bagaimana?

Tidak tahu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s